Tiada yang lebih abu dibandingkan perasaan pilu memeluk kalbu di tengah malam membisu.
Kini baru ku ketahui , apa yang selama ini ku pendam. Aku selalu berfikir bahwa masa kecil ku cukup membahagiakan . Dengan berbagai semerbak aroma yang mengharumkan di setiap momennya.
Tapi ternyata aku melupakan satu hal. Aku menguburnya terlalu dalam. Perasaan dimana secarik pujian jarang sekali terdengar.
Dari kecil, apapun yang aku usahakan, aku tak mengenang pujian yang mengapresiasi hasil kerja keras ku.
Aku tidak menyalahkan siapapun. Aku hanya menyalahkan diriku sendiri.
Hanya sebatas ucapan "nak kamu hebat" "Dik, kamu pintar" saja , entah kenapa tak ada di laci memori ku. Ada 2 kemungkinan, aku menghapus luka itu, atau ku bangun khayalan baru.
Apa yg tak bisa terjadi, aku akan mengarangnya dalam memori. Hal ini yang akan menciptakan kenangan pada memori ku sangat menyenangkan.
Hingga pada puncaknya ku sadari, bahwa itu khayalan yang tak terjadi.
Telinga ku berseru. Menginginkan itu. Butuh validasi?
Tentu! Aku sudah bekerja keras. Apakah untuk sekedar mendapatkan ucapan "selamat" saja, aku tidak layak ?
Aku baru mengetahui, mengapa love language ku word of affirmation dan act of service.
Bagaimana rasanya jadi anak bungsu? Entahlah , apa yang aku usahakan, ku simpan sendiri saja.
Komentar
Posting Komentar